Danantara Indonesia
Waste to Energy

Waste to Energy

Mengubah sampah menjadi infrastruktur untuk Indonesia yang lebih bersih dan tangguh.

Cakupan
>0 lokasi89 kabupaten/kota
Sampah Diolah
0 juta tonper tahun
Total Kapasitas Terpasang
~0 MWdi seluruh platform
Total Investasi
~USD 0 miliarlebih dari 30 lokasi
Waste to Energy

Sorotan Dampak Utama

Ekonomi
 

  • Investasi proyek: ~Rp3 triliun (~USD170,4 juta) per fasilitas
  • Indikasi nilai ekonomi: Rp8,5–14,2 triliun per fasilitas selama masa konsesi 30 tahun
  • 80% lebih efisien lahan dibanding tempat pembuangan akhir (TPA) konvensional

 

Sosial
 

  • >400.000 rumah tangga terlayani per fasilitas
  • 700–1.200 lapangan kerja hijau per fasilitas
  • Alih teknologi dan keterampilan

 

Lingkungan
 

  • Pengurangan emisi 640.000 tCO₂/tahun per fasilitas (Bali)

  • >19 juta tCO₂e dihindari setiap tahun secara nasional

  • Pengurangan emisi 80% dibanding pembuangan terbuka

  • 30 MW listrik bersih per fasilitas → (setara 100.000 rumah tangga)

  • Standar EU Industrial Emissions Directive (IED)

Transformasi Pengelolaan Sampah di Indonesia

Visi Denera, "Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Menuju Indonesia yang Bersih dan Sejahtera," dibangun di atas empat pilar strategis: Pengembangan Waste-to-Energy, Transformasi Pengelolaan Sampah, Infrastruktur Sampah Berkelanjutan, dan Kepemimpinan Teknologi Sampah. Keempat pilar ini menjadi fondasi pendekatan Denera yang terintegrasi dan dapat diskalakan dalam mengatasi tantangan sampah di Indonesia, yang terus diperluas ke seluruh rantai nilai.

Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai Bagian dari Rantai Solusi berarti bahwa Waste-to-Energy adalah salah satu bagian dari sistem pengelolaan sampah terintegrasi, bukan pengganti pengurangan sampah, pemilahan di sumber, atau daur ulang. PSEL melengkapi upaya tersebut dengan mengolah sampah residu yang tidak dapat dipulihkan melalui metode lain. Sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah terintegrasi yang mencakup pengurangan dan pemilahan di sumber, daur ulang, pemulihan energi, dan PSEL, setiap fasilitas Denera berperan dalam pendekatan siklus penuh terhadap sampah kota.

 

  • Indonesia menghasilkan sekitar 140.000 ton sampah per hari secara nasional

  • PSEL menargetkan 20–25% dari total volume sampah nasional sebagai bagian dari sistem terintegrasi

 

Teknologi yang digunakan PSEL adalah teknologi Moving Grate Incinerator, standar global yang digunakan pada 75–80% fasilitas Waste-to-Energy di seluruh dunia. Sampah campuran yang masuk dikeringkan selama 5–7 hari, kemudian dibakar pada suhu >850°C. Pada suhu ini, senyawa berbahaya terurai sepenuhnya, bukan menguap. Panas yang dihasilkan menghasilkan uap yang menggerakkan turbin untuk membangkitkan listrik, yang kemudian disalurkan langsung ke jaringan listrik nasional PLN.

Terbukti dalam Skala Global dengan lebih dari 3.100 fasilitas yang beroperasi di lebih dari 50 negara dan mengolah sekitar 640 juta ton sampah setiap tahun. Seiring meningkatnya adopsi, pasar global diproyeksikan mencapai USD 68,7 miliar pada tahun 2034. Negara-negara seperti Jepang, Tiongkok, Singapura, Swedia, Denmark, dan Jerman menunjukkan bagaimana Waste-to-Energy dapat berhasil diintegrasikan ke dalam sistem pengelolaan sampah nasional.

Skalabilitas Platform Nasional

Platform Denera mencakup fasilitas Waste-to-Energy atau PSEL skala kota di berbagai kota prioritas Indonesia. Batch 1 terdiri dari tiga lokasi: Greater Denpasar (Bali), Greater Bogor, dan Kota Bekasi. Batch 2 mencakup hingga 12 lokasi, ditambah dua lokasi transisi. Total investasi platform diperkirakan sekitar US$5 miliar di lebih dari 30 lokasi. Sejak diterbitkannya Peraturan Presiden No. 109/2025, program ini telah berjalan dengan cepat, mulai dari seleksi mitra dan kesepakatan daerah hingga d

Waste to Energy

Dampak Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan

01.

Transformasi Pengelolaan Sampah

Setiap fasilitas Denera beroperasi dalam sistem pengelolaan sampah terintegrasi, mencakup seluruh siklus mulai dari pengurangan dan pemilahan di sumber hingga daur ulang, pemulihan energi, dan PSEL. Satu lokasi mengelola sampah kota untuk lebih dari 400.000 rumah tangga, menyatukan pengumpulan, pengolahan, dan pembuangan ke dalam satu fasilitas termonitor yang dibangun untuk beroperasi selama masa konsesi 30 tahun. Lahan yang dibebaskan dari TPA konvensional 80% lebih efisien per unit sampah yang diolah, membebaskan ruang yang seharusnya terpakai untuk pembuangan terbuka.

02.

Manfaat Lingkungan

Sektor sampah Indonesia menyumbang 10–15% emisi gas rumah kaca (GRK) nasional, yang sebagian besar didorong oleh gas metana dengan potensi pemanasan 25 kali lipat dari CO₂ yang dilepaskan dari penguraian bahan organik di TPA terbuka. Denera menghilangkan masalah ini dari sumbernya. Pembakaran terkendali di atas suhu 850°C, tersaring sesuai standar EU IED dan dipantau secara berkelanjutan, menggantikan pembuangan terbuka, pembakaran terbuka, dan pelepasan metana yang tidak terkendali. Pengolahan sampah melalui PSEL mengurangi emisi per ton sekitar 80%, dari sekitar 1,8 tCO₂e pada TPA terbuka menjadi sekitar 0,3 tCO₂e. Secara nasional, platform ini menghindari lebih dari 19 juta tCO₂e per tahun sekaligus mengolah 13,2 juta ton sampah setiap tahun, menjadikan DENERA salah satu kontributor paling signifikan terhadap komitmen Net Zero Emission Indonesia pada 2060.

03.

Ekonomi Sosial

Setiap fasilitas Denera menciptakan daya tarik ekonomi yang melampaui batas fasilitasnya. Satu lokasi menggerakkan 10–15 sektor industri pendukung, dengan indikasi total nilai ekonomi sebesar Rp 8,5–14,2 triliun selama masa konsesi 30 tahun. Listrik bersih yang dihasilkan dalam proses ini — 3,96 TWh per tahun secara nasional — mengaliri lebih dari 1,5 juta rumah tangga melalui PLN. Pada skala nasional di lebih dari 30 lokasi, dampak lapangan kerja saja mencapai ratusan ribu posisi, mencakup kategori langsung, tidak langsung, dan ikutan (induced).

Dampak Ekonomi

01.

Lapangan Kerja Hijau

Setiap fasilitas menyerap 700–1.200 lapangan kerja hijau — 500–1.000 selama masa konstruksi dan sekitar 200 peran operasional dan pemeliharaan permanen — lapangan kerja yang berkelanjutan sepanjang masa konsesi, bukan sekadar lonjakan sementara saat konstruksi.

02.

Investasi

Sebuah fasilitas menyumbang Rp 1,3–1,6 triliun terhadap PDB hanya selama fase konstruksi, kemudian terus memberikan kontribusi Rp 180–220 miliar per tahun setelah beroperasi — nilai ekonomi yang terus bertambah sepanjang masa konsesi, bukan sekadar keuntungan sesaat dari konstruksi.

03.

Kesehatan Masyarakat

Dampak kesehatan masyarakat yang berhasil dihindari menjadi salah satu komponen dalam indikasi nilai ekonomi fasilitas, bersama dengan berkurangnya bau menyengat dan pencemaran tanah/air akibat dihilangkannya pembuangan terbuka — manfaat langsung bagi manusia dari menggantikan pembuangan yang tidak terkendali dengan proses yang termonitor.